Islamic Fintech Mulai Memasuki Indonesia. Kenali Apa Itu Islamic Fintech!

The future is now.  Kalimat ini sudah tidak asing didengar atas bukti teknologi yang semakin bersahabat dengan kehidupan sehari-hari manusia bahkan untuk persiapan masa depan. Orangpun mampu mengatakan “the world is in our hand”. Dengan satu sentuhan, kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan.

“Thanks to the technology and the internet!”

Dunia semakin berkembang cepat bersama inovasi baru yang menyatu dalam teknologi dan internet. Termasuk yang baru-baru ini, Indonesia sedang hangat-hangatnya membicarakan bisnis start-up yang berhubungan dengan Fintech (Financial Technology). Fintech yang merupakan kata gabungan dari finansial teknologi, merupakan platform online yang memudahkan kita dalam bertransaksi untuk tujuan apapun. Teknologi ini mulai bermunculan di abad ke-21. Awalnya, istilah yang diterapkan pada teknologi ini diterapkan pada back-end lembaga keuangan konsumen dan perdagangan yang didirikan. Maka sudah tidak jarang lagi sektor perbankan menyediakan layanan internet banking untuk kemudahan transaksi nasabahnya. Banyak juga dari e-commerce meng-upgrade cara pembayaran menggunakan teknologI tersebut untuk mensejajarkan diri mereka dengan bisnis modern lainnya. Bahkan, sekarang transportasi online sekarang sudah lebih sering dan mudah digunakan dengan layanan electronic money nya. Sejak akhir dekade pertama abad ke-21, istilah ini telah diperluas dalam berbagai inovasi teknologi di sektor keuangan, termasuk inovasi dalam literasi keuangan dan pendidikan, perbankan ritel, investasi bahkan mata uang kripto seperti bitcoin. Walau begitu, secara bahasa, Fintech memang belum dimasukkan ke dalam kamus manapun. Maka dari itu ada banyak cara orang mengkategorikan jenis-jenis fintech yang terus bertambah setiap waktunya. Di antara banyak kategori, ada beberapa yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia seperti Crowdfunding, E-money, Online Banking, Peer to Peer Lending, Donation dan banyak lagi. Ethis akan menjelaskan lebih lanjut di kategori tersebut di artikel selanjutnya.

Apa yang baru dari Fintech?

Ternyata Fintech tidak hanya menarik untuk diakses saja, tapi juga memikat para pebisnis muda untuk menjadikannya sebagai platform bagi para donatur, investor, dan lain-lain. Dengan adanya inovasi mereka, kemudahan penunjang hidup semakin mudah didapatkan. Contohnya saja, Ethis Indonesia dimulai dari niat seorang founder dari aktifitas relawannya untuk korban banjir di masanya. Ronald Wijaya mencari solusi untuk menyediakan rumah murah dan layak huni bagi mereka yang kurang mampu dan menjadikannya peluang bisnis baru untuk semua kalangan masyarakat, sehingga dapat membantu merealisasikan rumah layak huni bagi mereka yang membutuhkan. Padahal, berinvestasi untuk pembangunan rumah murah masih kalah jauh menarik dibanding pasar real estat menengah ke atas. Di sinilah, Ethis hadir menciptakan magnet baru bahwa investasi pembangunan rumah murah juga sesuai untuk dikomersilkan, selain daripada mempermudah mereka yang sangat menginginkan rumah murah. Karena, ternyata ketersediaan rumah-rumah tersebut di negara ini masih sangat kurang (baca lebih lanjut di sini).

Apakah perbedaan Fintech dan Islamic Fintech?

Di sini Ethis merupakan Fintech yang berbasis syariah yang tidak menerapkan sistem riba dalam pembiayaan pengembangan property. Ethis mempunyai kelebihan dalam sistem investasi secara kolektif, inklusif, dan bagi hasil yang adil. Selain jauh dari kata riba, Islamic Fintech lebih mudah dipahami dengan poin-poin di bawah ini:
  • Pengiriman Digital Keuangan Syariah (Islamic Finance)
  • Penggunaan utilitas Fintech: KYC / AML, Blockchain dan DLT, Cyber, Pembayaran, Big Data & Machine Learning di Islamic Finance
  • FinTech yang bergerak dalam pasar Muslim untuk memberikan kebutuhan keuangan yang tidak terpenuhi dan dengan tujuan inklusi keuangan
  • FinTech yang mendanai keuangan sesuai Syariah dalam berinvestasi untuk infrastruktur digital atau pembangunan ekonomi di manapun.
Dari definisi di atas, Islamic Fintech masih dalam cakupan Fintech pada umumnya. Hanya saja, yang menjadi pemain utama dalam teknologi harus sesuai dengan prinsip keuangan Islam (Islamic Finance) yang jauh dari unsur gharar atau ketidak pastian yang ditujukan kepada pihak terlibat dalam sebuah bisnis, dan lain-lainnya seperti riba dan barang haram. Selain Ethis, Kapital Boost juga merupakan contoh dari Islamic Fintech yang berpengalaman dalam pembiayaan UMKM di Indonesia. Dengan sistem yang tidak berbeda dengan Ethis, Fintech ini juga menerapkan crowdfunding untuk penggalangan dana yang akan disalurkan untuk UMKM yang membutuhkan demi kelancaran usaha yang telah berjalan. Apakah anda sudah berpindah ke sistem keuangan Islam dalam bertransaksi yang lebih transparan dan pasti?
Like
3